Monday, October 5, 2015

Catatan Penting Hidroponik 81 : BETAPA SULITNYA MEMPRODUKSI ANAK-SEMAI YANG BAIK.

Catatan Penting Hidroponik 81 : BETAPA SULITNYA MEMPRODUKSI ANAK-SEMAI YANG BAIK.

Oleh : Yos Sutiyoso
Banyak yang tanpa menyadari telah terjungkal dalam usahanya membangun suatu usaha tani budidaya hidroponik. Usut punya usut, yang mengganjel terbukti adalah cara membuat dan merawat persemaian yang sanggup menghasilkan anak-semai yang tegap dan tinggi nilai keperidian/viability-nya. Anak-semai yang dihasilkan biasanya kutilang, kurus – tinggi – langsing, pucat, kurus, meliuk-liuk, dan bila diteruskan dipelihara, maka “makan ati”, karena yang didapat jauh dari yang mereka bayangkan sebelumnya.
Rupa-rupanya kebanyakan hobbyist ber-mindset bahwa persemaian itu harus gelap, mengingat begitu halnya di hutan belantara; benih-benih yang jatuh dari tumbuhan, berkecambah di dasar hutan di mana pencahayaan hanya remang-remang saja.
Kemudian, mengenai penyebaran benih. Terlalu rapat, hingga bedesak-desakan , itulah yang kerap terlihat. Kadang cukup dengan benih seperempat jumlahnya? Sebenarnya tidak terlampau sulit untuk mengira-ngira “lebensraum”, lingkungan hidup, yang diperlukan untuk tiap individu anak-semai. Karena itu, menanam dalam barisan sering diperkenalkan untuk mengatur jarak tanam anak-semai yang teratur. Tetapi masih saja ada kesalahan, dengan menyebar benih terlampau rapat di dalam barisan.
Hasilnya adalah anak-semai yang kurus, jangkung, pucat, dengan kotil terlihat diujung batang yang menjulang tinggi. Bila anak-semai yang demikian dipelihara, maka menurut pengalaman, umurnya untuk mencapai layak panen, menjadi lebih panjang. Ukuran buah sukar mencapai ukuran ideal, dan harus puas dengan buah yang berukuran kecil, dan bentuk yang tidak berarturan.
Anak-semai kelihatan kurus, dan ketika ditanya bagaimana pemupukan persemaian, jawabnya ialah bahwa ia sama sekali belum memupuk persemaian, mengingat bahwa kecambah akan memanfaatkan reserve makanan dalam kotil, serupa dengan anak ayam yang selama beberapa hari mengandalkan reserve makanan dalam bentuk kuning telur yang dibawanya ketika ia menetas. Sebagian memang benar, tetapi pada kecambah hypocotyl sudah terbentuk akar, yang alangkah baiknya dimanfaatkan dengan memberi pupuk pada kecambah, dengan maksud memacu pertumbuhan anak-semai.
Kebanyakan takut memberi pupuk pada anak semai, karena lembutnya kecambah. Diberi pupuk tipis-tipis saja, takut kecambah menjadi gosong, bila diberi larutan pupuk yang terlalu pekat. Paling diberinya larutan pupuk dengan kepekatan EC 0,8 mS. Berdasarkan pengalaman, anak-semai yang dihasilkan akan lebih tegap, lebih banyak yang dapat bertahan hidup, bila EC ditingkatkan menjadi 1,5 mS. Penulis sendiri menggunakan EC 2,0 tanpa ada keluhan keracunan maupun gosong.
Catatan Penting Hidroponik 82 : MENINGKATKAN DOSIS PEMUPUKAN SESUAI DERAJAT PERTUMBUHAN TANAMAN

Catatan Penting Hidroponik 82 : MENINGKATKAN DOSIS PEMUPUKAN SESUAI DERAJAT PERTUMBUHAN TANAMAN

Oleh : Yos Sutiyoso
Ada yang menanam tanaman berbuah, al. Tomat, dengan EC 2,5 terus menerus, tanpa meningkatkan EC tersebut! Bisakah ia berhasil? Bisa ! Contohnya? Simak cerita berikut.
Digunakan sistem fertigasi, dengan menggunakan irigasi tetes, pada polybag berkapasitas 7 liter, dengan ukuran lebar terlipat X tinggi = 40 x 45 cm, diisi dengan “kuntan” = arang sekam, yang agak dipadatkan. Anak semai, yang ditanam di tengah sepotong kubus rockwool 5 X 5 X 5 cm , berdaun sejati 1 ½ helai, berumur 10 hari, dengan akarnya yang sudah panjang, ditanam ditengah polybag.
Pada hari-hari awal anak semai yang baru pindah-tanam itu dibanjur larutan pupuk 2 X/hari a 200 ml, 400 ml/hari, yang ber-EC 2,5. Beberapa hari kemudian di tingkatkan menjadi 3 X 250 ml = 750 ml/hari. Semakin berumur, semakin banyak pemberian pupuknya. Ditingkatkanlah pemupukan menjadi 4 X 300 = 1200 ml/hari. Karena tanaman tomat di-dua-cabangkan, maka ditingkatkan lagi pemupukan dengan 5 X 350 = 1750 ml/hari. Semua peningkatan pemberian pupuk ini, tidak disertai peningkatan EC larutan.
Memang kita tergiur untuk meningkatkan EC, karena pengaruh positifnya sangat besar terhadap kualitas dan kuantitas hasil. Tetapi kita harus mempertimbangkan jenis tanaman. Tomat tanaman yang berkayu toleran terhadap EC yang tinggi, jadi kita bisa saja meningkatkan EC hingga misalnya 5 mS. Bila tanaman itu melon, yang sukulen, banyak berair, yang nilai ambangnya hanya pada EC 3,0, maka kita harus “main” di zona aman, yaitu maksimum EC 2,5.
Memang ada yang berani menggunakan EC 2,8, tetapi tanaman berada di ujung tanduk, rentan terhadap “phytotoxicity”/keracunan. Seperti dimaklumi, bila ada angin kering meniup keras mendadak, maka tanaman banyak ber-respirasi, banyak kehilangan air, atau dehidrasi, maka EC bisa saja mendadak meningkat menjadi 3,0, dan kalau hal ini berlangsung lebih dari satu jam, mungkin saja nilai ambang keracunan terlampau, dan daun akan gosong.
Keterangan ini a.l. ingin menerangkan bahwa peningkatan pemupukan bukan hanya dengan meningkatkan “electro conductivity” saja, melainkan juga dengan peningkatan pemberian volume pupuk. Pada NFT, dengan meningkatkan “flowrate”/curah, misalnya dari 1 l/gully/menit menjadi 2 l/gully/menit. Pada NFT mungkin pula dilakukan dengan memperbesar “tangens” kelandaian, dari 2,5 % menjadi misalnya 5 %, sehingga larutan meluncur dengan lebih cepat. Berarti jumlah pupuk yang mengaliri akar jumlahnya lebih banyak, yang memberi kesempatan akar menyerap hara nutrisi lebih banyak lagi, yang berpengaruh positif bagi produksi.
Catatan Penting Hidroponik 83 : NILAI AMBANG KERACUNAN – PHYTOTOXICITY LEVEL.

Catatan Penting Hidroponik 83 : NILAI AMBANG KERACUNAN – PHYTOTOXICITY LEVEL.

Oleh : YOS SUTIYOSO 

Karena ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi, maka sering dilakukan peningkatan EC. Dilain fihak, harus diingat bahwa kita tidak bisa semena-mena meningkatkan angka EC, mengingat ada batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui, yaitu Nilai Ambang Fito-toksisitas. Di atas nilai tersebut, keracunan yang terjadi biasanya gosong pada daun yang menghitam hangus, jaringan mati oleh kepekatan pupuk yang berlebihan.
Tiap kultivar (cultivated variety) memiliki nilai ambang sendiri. Bisa diterka, bahwa tanaman yang lunak atau sukulen dan banyak mengandung air, nilai ambangnya rendah, dan dengan EC yang rendah telah teracun, dengan gejala gosong, menguning, melayu, daun bergelayutan berkerut, disusul kematian.
Contohnya ialah tanaman pakchoy, caysim, bayam, yang mulai teracun pada EC sekitar 3,0 mS/cm, sehingga kita bekerja hanya hingga EC 2,5. Jendela sebesar EC 0,5 harus kita sediakan untuk bila sewaktu-waktu EC meningkat, misalnya karena RH (relative humidity, kelembaban nisbah) mendadak turun, yang menyebabkan transpirasi meningkat, tanaman kehilangan air atau dehydrasi, yang mengakibatkan EC naik.
Lagi pula, EC yang semakin tinggi dan mendekati nilai ambang, efisiensi penyerapan hara nutrisi dari media oleh akar, menurun sekali, berdasarkan hukum “law of deminishing return”. Jadi kita harus menahan diri, untuk berhenti pada angka EC tertentu.
Tanaman yang berkayu, semisal cabai, terung, tomat, paprika, mempunyai toleransi yang jauh lebih tinggi. Pernah diberitakan bahwa di India ada seseorang yang menanam tomat dengan EC 7,0 dan tidak melaporkan adanya keracunan. Bisa kita simpulkan bahwa nilai ambang keracunan tomat berada di atas angka EC 7,0. Di lain fihak, sering kita bertanya : Apakah perlu kita tingkatkan EC hingga mepet pada nlai ambang keracunan? Kadang titik optimal keuntungan berada jauh di bawah angka nilai ambang.
Bola EC sudah tinggi sekali, tetapi masih ada keinginan untuk meningkatkan pemupukan, maka tempuhlah jalan volume pemberian pupuk. Pada NFT, flowrate/curah yang sebesar 1 l/gully/menit, ditingkatkan menjadi 2 l/gully/menit. Atau kelandaian talang yang tangens 2 %, diperbesar menjadi tangens 4 %, perbedaan tinggi 4 cm per meter talang, sehingga larutan meluncur dengan lebih cepat, seolah-olah akar disuapi makanan dobbel lebih cepat.
Dengan memperbesar tangens dari 2 menjadi 4 %, berarti “film” larutan di talang menjadi lebih tipis, yang berarti air bersentuhan dengan oksigen dari udara lebih banyak, kadar oksigen-terlarut meningkat. Respirasi/pernafasan terpacu, energi lebih banyak terbentuk, tanaman lebih powerfull untuk menyerap ion-ion dari larutan. Komplitnya nutrisi yang sekarang dapat diserap tanaman, menyebabkan tanaman tumbuh dengan sempurna!
Catatan Penting Hidroponik 84 : KEBUTUHAN AIR OLEH TANAMAN

Catatan Penting Hidroponik 84 : KEBUTUHAN AIR OLEH TANAMAN

Oleh : Yos Sutiyoso
Berapa banyakkah diperlukan air oleh tanaman untuk tumbuh dengan baik ? Penyerapan air dari media oleh akar umumnya karena merespons terhadap “transpirasi” oleh tanaman. Transpirasi atau “berkeringat” ialah pergerakan air di dalam tanaman, untuk mengganti air yang hilang oleh “evaporasi” atau penguapan, kebanyakan oleh daun. Memang ada juga kehilangan air, karena digunakan untuk proses foto-sintesa asimilasi karbohidrat, tetapi jumlahnya tidak seberapa.
Besarnya evaporasi disebabkan oleh beberapa faktor utama, a.l.
1. Species atau kultivar (cultivated variety) yang ditanam, dengan sifat khasnya, misalnya lebarnya daun, tipisnya daun, melengkung atau ratanya daun, sudut arahan daun terhadap ranting, tata letak berdesakannya daun.
2. Ukuran tanaman. Tanaman yang besar, jumlah luas efektif seluruh daunnya tentunya lebih besar daripada tanaman yang ukurannya kecil.
3. Umur yang berhubungan dengan kedewasaan organ tanaman. Daun, ranting, cabang yang masih muda, epidermisnya belum tebal, penguapannya besar. Organ yang sudah tua, epidermisnya sudah tebal dan kuat, kadang sudah diliputi “callus”, lapisan gabus, yang mengurangi penguapan.
4. Radiasi, terutama cahaya matahari. Radiasi semakin intens, semakin banyak kehilangan air. Gelombang cahaya bila mengenai/menyinari tanaman, berubah menjadi panas, yang menyebabkan evaporasi lebih besar.
5. Temperatur udara. Bila temperatur udara tinggi, maka temperatur tanaman juga meningkat, evaporasi untuk mendinginkan kembali tanaman, juga meningkat.
6. Kelembaban nisbah (RH, relative humidity) bila rendah, maka evaporasi tanaman meningkat, dan tanaman banyak kehilangan air.
7. Bila angin bertiup keras, terutama angin yang kering, maka evaporasi meningkat.
Terhadap setiap situasi yang mencekam, pasti ada solusi-nya, tetapi harus dipertimbangkan mana yang secara teknis lebih mudah diterapkan, dan secara finansial lebih hemat biaya! Harus segera dikerjakan, karena banyak yang bisa menyebabkan musibah yang lebih besar lagi, bila tidak secepatnya dilaksanakan.
Catatan Penting Hidroponik 85 : SISTEM PENGELOLAAN AIR PADA HIDROPONIK.

Catatan Penting Hidroponik 85 : SISTEM PENGELOLAAN AIR PADA HIDROPONIK.

Oleh : Yos Sutiyoso

1. Sistem aliran. Contohnya ialah NFT, Nutrient Film Technic, hidroponik talang landai. Larutan nutrisi dialirkan pada dasar talang, atau kadang disebut “gully”, dengan “flowrate”, atau curah, misalnya 1 liter/gully/menit. Pengaliran dijalankan terus menerus, tanpa henti. Tidak dibenarkan untuk mematikan pompa, walau dengan alasan penghematan sekalipun.
Peningkatan aliran dilakukan dengan memperbesar flowrate, misalnya dari 1 liter, menjadi 2 liter/gully/menit. Pasti akan memperbesar derajat pertumbuhan tanaman.
Percepatan pengaliran bisa didapat dengan memperbesar kelandaian gully, misalnya dari tangens 2 % dijadikan tangens 4 %, yang berarti turun 4 cm untuk tiap meter-lari gully.
2. Pengkabutan. Contohnya ialah pada aeroponik, anak-semai dibungkus pangkal akarnya dengan sejumput rockwool, lalu ditancapkan pada lubang-tanam berdiameter 3 cm, pada styrofoam ketebalan 3 cm, dengan medium density. Tiga puluh cm di bawah helaian styrofoam ada dibentangkan slang poly-ethylene, dan padanya tiap meter ditancapi sprinkler, yang dengan tekanan 2 atmosfir, menghasilkan kabut sebanyak 0,85 liter/menit, atau 50 liter/jam, yang membasahi perakaran terus menerus, tanpa hentinya. Tidak dibenarkan untuk mematikan pompa, walau malam hari tidak ada sinar matahari sekalipun.
3. Irigasi tetes. Biasanya disebut pula fertigasi, kombinasi dari “fertilisation” dengan “irrigation”. a) Larutan disalurkan melalui “regulating stick” atau “dripper” untuk budidaya polybag, kapasitas 5 liter arang sekam, biasanya untuk tanaman merambat semisal melon! b) Regulating stick ditancapkan pada “slab”, bantalan berisi “rockwool”, atau “coco-chips”, atau “cocopeat”, yang tidak lain adalah bubuk sabut kelapa. c) Menggunakan slang poly-ethylene, yang tiap 30 cm ditancapi nippel, yang dihubungkan dengan slang hitam kecil berdiameter 5 mm, yang dikenal sebagai spaghetty tube. Di ujungnya dipasangi regulating stick atau dripper, debit 1 liter/jam, ditancapkan pada media arang sekam di polybag.
4. Pasang Surut, Ebb and Flood. Pot-pot tanaman hias ditempatkan pada suatu bak, dialiri air hingga tinggi sekitar 4 – 5 cm, yang merendam pot-pot tanaman hias selama 10 menit. Kemudian larutan di-drain, dialirkan kembali ke tandon secara gravitasi. Hal ini diulangi 2 – 3 hari sekali, tergantung cuaca. Ketika ketinggian air di pot-pot turun, maka terhisaplah udara segar masuk ke dalam media. Aerasi di pertanaman ini cukup baik.
5. Perendaman. Contohnya adalah Hidroponik Rakit Apung. Anak-semai diganjal dengan rockwool ditancapkan ke dalam lubang-tanam pada helaian styrofoam. Helaian ini kemudian diambangkan dalam kolam larutan nutrisi, dengan akarnya terendam dalam air. Oksigen-terlarut di-supply oleh aerator dengan airstone-nya.
Catatan Penting Hidroponik 86 : PRODUKTIVITAS TOMAT PADA BUDIDAYA HIDROPONIK.

Catatan Penting Hidroponik 86 : PRODUKTIVITAS TOMAT PADA BUDIDAYA HIDROPONIK.

Oleh : Yos Sutiyoso

Di literatur luar negeri terlintas bahwa produktivitas tomat di negeri Belanda adalah 42 kg/m2/tahun. Angka ini adalah angka rata-rata seluruh negeri. Pada kesempatan lain terbaca pula, bahwa produktivitas yang menonjol pada kebun tertentu adalah 67 kg/m2/tahun. Angka-angka fantastis ini semua dihasilkan dengan budidaya hidroponik di dalam greenhouse, dengan teknologi mutakhir, semuanya serba automatis.
Perjalanan panjang telah dilakukan untuk mencapai taraf tersebut. Waktu dan biaya yang dikeluarkannya pastinya telah banyak, begitu pula keringat dan air mata.
Kita ingin menggunakan angka-angka produktivitas tersebut untuk menggugah dan merangsang minat di negeri sendiri, untuk memacu kegiatan produksi budidaya hidroponik. Walau tertinggal sangat jauh, tidak ada alasan untuk menunda memajukan budidaya hidroponik tomat di dalam negeri.
Sebaiknya kita mulai dengan meningkatkan pendidikan, pelatihan, penjenjangan, dan pengetahuan, ketrampilan dari Sumber Daya Manusia. Mempermudah pengadaan bahan untuk membuat prasarana produksi, seperti greenhouse dan assesoris fasilitas instalasi produksi. Dilengkapi peraturan yang memberi rambu-rambu supaya pelaksanaannya mulus dan tidak banyak mengalami hambatan. Sarana produksi dalam bentuk bahan kimia anorganis, pestisida, benih, media tanam, dsbnya, sebaiknya difikirkan mulai dari semula. Juga bahan pengepakan untuk memberi penampilan di pasar domestik dan ekspor perlu diperhatikan, dan diusahakan tidak melanggar peraturan di negeri orang.
Tomat hidroponik produksi greenhouse patut dimajukan, mengingat sayuran hasil budi- daya hidroponik adalah sehat, tidak mengandung logam berat yang tidak disukai. Pernah diadakan analisa kandungan sayuran hasil budidaya hidroponik, yang berkesimpulan bahwa sayuran hasil budidaya hidroponik tidak mengandung logam berat cadmium Cd, hydrargirium Hg, dan arsenicum As, yang dianggap dapat membahayakan kehidupan.
Analisa tersebut juga berkesimpulan bahwa kandungan protein dan vitamin, lebih tinggi dari yang ditanam secara konvensional di tanah.
Tomat hasil budidaya hidroponik tidak mengandung mikro organisma, semisal E. Coli, yang belakangan dihebohkan di negeri Spanyol, Polandia, Rusia, dsbnya. Juga kita harus berjaga-jaga terhadap Tetanus, Salmonella, dsbnya, yang mengintai kita dari sembarang pojok. Mana mungkin E. Coli, Tetanus, Salmonella, hidup di karung-karung berisikan garam Ca-nitrat, Mg-sulfat, dsbnya? Sayuran hidroponik bebas dari mikro-organisma tersebut, karenanya disebut makanan sehat.
Catatan Penting Hidroponik 87 : PROSPEK BUDIDAYA HIDROPONIK.

Catatan Penting Hidroponik 87 : PROSPEK BUDIDAYA HIDROPONIK.

Oleh : Yos Sutiyoso
Prospek budidaya hidroponik sangatlah besar, terutama karena pertimbangan wilayah tropic, sekitar chatulistiwa, dengan matahari melimpah, begitu pula hujannya. Kalau di negeri ber-4 musim, spring – summer – autumn – winter, memerlukan pemanasan untuk dapat berproduksi, di wilayah tropis pemanasan greenhouse tidak pernah dibicarakan.
Pemanasan greenhouse di negeri orang, merupakan pengeluaran yang besar sekali, dan beruntung kita di dalam negeri tidak perlu memikirkannya. Ini saja kita sudah mendapatkan keunggulan yang bukan main besarnya, dan dengan biaya produksi yang rendah tentunya kita dapat bersaing, bila kita sudah mulai memikirkan ekspor. Ekspor akan dimulai dengan negara tetangga yang dekat-dekat saja, karena biaya transpor masih cukup tinggi, dan fasilitas perkapalan dan infra-struktur-nya belum memadai.
Dinegeri ber-4 musim, matahari tidak banyak di musim salju. Beruntung kita tidak memiliki mujsim salju demikian, sehingga energi “Youle”, yang adalah lamanya penyinaran X intensitas penyinaran, jumlahnya besar untuk Indonesia. Kita memiliki kemenangan komparatif terhadap negeri orang lain. Seharusnya kita banyak mengekspor sayuran & buah, untuk memberi makan ke negeri ber-4 musim. Kemudian devisa yang banyak bisa didapatkan, dibelikan barang-barang modal yang belum bisa kita produksi sendiri.
Di TV kita sering lihat beberapa negara mengalami musibah kekeringan, yang menyebabkan kelaparan dan kematian. Kita tidak melihat adanya air di dalam pemandangan TV tersebut. Bandingkan dengan kondisi di negeri kita, di mana air terdapat melimpah, tersebar di mana-mana, kadang-kadang berlebih, sehingga menyebabkan genangan dan banjir. Budidaya hidroponik yang membutuhkan air, dengan leluasa dapat dikembangkan di dalam negeri. Hanya kita harus memilah-milah, mana air yang lebih bagus untuk berbudidaya hidroponik.
Kelembaban nisbah (relative humidity) udara di Indonesia pada umumnya sangat menyenangkan, dan jarang kita melihat tanaman melayu dengan daunnya bergantungan lemah-lunglai. Terlihat daun-daun segar dan berkilauan, menandakan turgor atau tekanan sel sangat baik. Mengingat bahwa air di dalam sel dibawa oleh ion yang memasuki sel, maka besarnya turgor bisa diartikan sel tinggi kandungan ionnya. Mengingat sumber ion-ion adalah media tanam, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa media-tanamnya kaya akan nutrisi. Tanaman yang sedemikian akan awet “shelf life”-nya, sehingga kita bisa menuntut harga yang lebih tinggi untuk produk hasil budidaya hidroponik kita.
Saya yakin bahwa prospek budidaya hidroponik di Indonesia sungguh sangat besar. Tergantung apakah kita mau meng-explore dan meng-exploitasi-nya!